Agama, Kekerasan, dan Terorisme

Agama, Kekerasan, dan Terorisme

  • Post author:
  • Post category:Islami
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:11 mins read

 

source: brilio.net

Oleh: Mohammad Danial Shafran

Di hari yang cerah pada tahun 2007, saat bunga-bunga tengah bermekaran, para mahasiswa Universitas Tech Virginia sedang berjalan untuk mengikuti kelas. Di saat itu pula, salah seorang mahasiswa melakukan penembakan yang merenggut 32 jiwa, sejenak sebelum ia membalikkan pistolnya pada dirinya sendiri. Kemudian, pada tahun 2020 kemarin, seorang guru sejarah dan geografi pada salah satu sekolah di Prancis dibunuh oleh remaja berumur 18 tahun. Motifnya adalah karena ia menunjukkan karikatur Nabi Muhammad sewaktu menyampaikan materi kebebasan berekspresi. Pasca kejadian itu, berbagai pandangan dan analisis bermunculan sebagai upaya menyikapi kasus kekerasan tersebut. Salah satu orang yang menganalisis kisah ini ialah Grace Kao, professor kajian agama di Universitas Tech Virginia.[1] Ia menegaskan, tindakan semacam ini tidak bisa dipahami secara sempurna tanpa melibatkan aspek-aspek yang diwarnai dengan “agama”.

Beberapa pakar menduga, pandangan Kao ini banyak dipengaruhi oleh tindakan kekerasan orang-orang yang mengatasnamakan agama; agama dijadikan legitimasi pembenaran kekerasan. Asumsi semacam ini hadir bukan tanpa dasar. Pola yang paling mendasar terkait asumsi ini yaitu berangkat dari pelbagai serentetan kejadia n kekerasan yang mayoritas dimotori oleh orang “yang mangaku” penganut agama.

Peristiwa 11 September 2001, misalnya, yang mana pelakunya adalah jelas-jelas beragama Islam. Hal serupa juga terjadi pada 2002 saat masyarakat Amerika mengerti bahwa penembak jitu di Beltway Washington DC merupakan anggota negara Islam. Bahkan, penelitian oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa selama beberapa dekade terakhir perilaku kekerasan banyak diinisiasi oleh orang-orang yang mengatasnamakan agama. Oleh karena itu, maka tidak heran ketika sebagian beranggapan bahwa agama identik dengan kekerasan atau sebaliknya; kekerasan identik dengan agama. Keberagamaan seseorang seketika terproyeksikan menjadi demonisasi diakibatkan “manifestasi” tindakan alienasi yang mengaburkan makna kemanusiaannya dalam agama.

Sekelumit kasus kekerasan yang membawa nama agama menarik perhatian beberapa pengamat, salah satunya karena definisi kekerasan agama masih seringkali rancu, kacau, dan membingungkan. Selain itu, kekerasan agama memang sulit, atau tidak mungkin, mencapai pada sebuah pengertian dan konseptualasi paripurna, apalagi jika kita memulai dengan pandangan yang diterima secara luas bahwa agama merupakan jalan kekuatan untuk menggapai perdamaian.[2]

Di sisi lain, banyak kajian yang hanya membatasi pada persoalan peperangan dan konflik revolusioner dan mengabaikan “kapasitas” agama yang digunakan oleh kelompok tertentu sebagai alat untuk menindas hak dan kepentingan kelompok lain. Dengan demikian, guna mencari jalan tengah terhadap apa dan bagaimana definisi kekerasan agama—yang tak pernah menemukan ujung paripurna dan pas—pembahasan tentang tema ini tidak bisa dilepaskan dari pandangan beberapa bentuk kekerasan yang sekilas nampak dibenarkan dan disahkan oleh agama.

Agama sering dijadikan alat untuk meligitamasi peperangan. Terkadang, beberapa pemimpin agama mendoktrin para pengikutnya jika mereka dibenarkan saat terlibat dalam konflik peperangan dan konflik, dan seringkali para pemimpin agama melakukan agitasi demi keberlangsungan kampanye militer, dengan dalih bahwa tindakan semacam itu telah terjustifikasi dan sah secara ajaran agama mereka.[3]

Peristiwa Perang Salib, 1095-1291 M., merupakan contoh kampanye militer yang, menurut mereka, disetujui dan disahkan oleh “agama”. Justifikasi agama juga tergambar pada pembunuhan beberapa spesies binatang sebagai bentuk pengorbanan terhadap yang supranutral (supernatural beings). Pada kasus yang lain, manusia juga kadang dijadikan korban persembehan dalam sebuah ritual keagamaan. Bahkan, motif keagamaan digunakan untuk mencoba menjustifikasi pembunuhan individu karena mereka dianggap telah keluar dari agama (murtad), merevisi ajaran agama (heresy, bid’ah), dan mengkritik keras atau menulis tentang suatu agama dengan cara menyudutkan, mendiskreditkan, dan meremehkan ajarannya. Agama juga digunakan untuk membenarkan bunuh diri seperti yang terjadi pada kasus pembantaian Jonestown 1978, di Guyana, yang mana 900 lebih orang meninggal karena membenarkan bunuh diri massal. Agama juga dijadikan alat untuk melegitimasi berbagai macam bentuk menyakiti dan melukai diri sendiri, seperti ritual berdarah atau self-flagellation yang dilakukan orang Syiah pada hari ke-9 dan ke-10 bulan Muharram.

Dari sini, timbulah pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan paling mendasar ialah “apakah benar agama mengajarkan kekerasan? Atau, apakah kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok oknum memang disahkan oleh agama? Pertanyaan seputar ini seringkali bermunculan di benak para pengamat.

Beberapa buku yang mengkaji hubungan agama dan kekerasan juga sudah banyak ditulis dan perdebatan pun terjadi antara mereka. Sebagian bependapat bahwa agama memang merupakan sumber penyebab kekerasan, sedangkan yang lain berpendapat, meskipun agama acapkali digunakan sebagai dalih untuk melegitimasi kekerasan, agama bukanlah sumber penyebab kekerasan.[4] Perdebatan tentang hubungan agama dan kekerasan ini tentu tidak bisa lepas dari serangkaian peristiwa kekerasan sebagaimana tercantum di atas. Selain itu, pertanyaan yang lebih spesifik tentang ajaran agama Islam yang dianggap memotivasi sebagian kelompok muslim untuk melakukan tindakan terorisme juga memikat perdebatan di antara mereka.

Beberapa pengamat, seperti Pape (2005) dan Godin (2006), menjelaskan bahwa terorisme yang dilakukan oleh orang Islam adalah murni karena dalih politik. Sebaliknya, pengamat lain, seperti Linclon (2003) dan Ignatieff (2004), teguh pada argumennya bahwa terorisme Islam kontemporer tidak dapat dipahami tanpa memahami dimensi khas ajaran agamanya. Dengan kata lain, bahwa terorisme yang dilakukan oleh orang-orang Islam memang bersumber dari motif ajaran agamanya. Terlepas dari dua pandangan yang saling bertolak belakang itu, seabrek peristiwa kekerasan atas nama agama yang disebut di atas tidaklah dapat dibenarkan, meskipun juga tidak serta-merta bisa disalahkan. Oleh karena itu, penting kiranya mengetahui apakah beberapa contoh kekerasan yang dianggap terjusfikasi oleh agama memang faktor murni karena motif agama, faktor politik, atau bahkan karena faktor agama dan politik.

Agama dan Terorisme

            Perdebatan yang tak pernah habis dan selalu memikat para pengamat ialah hubungan antara agama dan terorisme. Sehingga, perdebatan tersebut juga membawa mereka pada hubungan Islam dan terorisme. Bahkan tidak sedikit yang menganggap Islam adalah agama yang banyak melahirkan kelompok-kelompok teroris. Kutipan-kutipan yang bersumber dari al-Quran, tanpa memandang konteks sejarah, digunakan oleh beberapa orang untuk membuktikan bahwa Islam pada dasarnya adalah agama yang merancang kekerasan. Selain melalui kutipan-kutipan dari al-Quran, serangkaian peristiwa kekerasan yang mayoritas dilakukan oleh umat Islam juga dijadikan landasan untuk membenarkan anggapan mereka bahwa Islam identik dengan kekerasan, terorisme, dan kebrutalan. Lalu, apakah memang demikian?

Menurut Quddus (2015), orang-orang yang berasumsi demikian tidak lain merupakan orang yang mengkaji ajaran agama secara tidak mendalam dan sempurna. Orang-orang semacam ini adalah penjual propaganda yang menyamar menjadi “cendikiawan Islam” dengan pengetahuan yang sangat terbatas. Upaya mereka dalam mempelajari Islam sangat dangkal, bias, dan tanpa pemikiran kritis.[5] Islam yang sebenarnya tidak pernah membenarkan kekerasan sebagaimana agama lain, tetapi mengizinkan melakukan pembelaan saat merasa terancam atau teraniaya. Al-Quran secara khusus pun menyatakan bahwa “izin untuk berperang kepada mereka yang diperangi karena mereka telah teraniaya…” (QS. Al-Hajj: 29-40). Hal ini secara jelas menyiratkan bahwa umat Islam diberikan hak untuk berperang saat mereka merasa tersudutkan dan menjadi sasaran kekerasan.

Bahkan al-Quran juga memberikan batas tertentu dan menetapkan kode perilaku dalam peperangan. Batasan dan aturan berperang tersebut mengacu pada perilaku Muslim yang dibingkai pada ajaran Islam guna menjadikan perang yang beradab dan manusiawi. Hal tersebut mencakup tidak menyerang orang yang terluka, tidak menyerang atau membunuh non-pejuang seperti orang tua, anak-anak, wanita, tokoh agama tertentu yang sedang beribadah. Selain itu, Islam secara khusus juga melarang membunuh tawanan perang, melakukan penjarahan dan perampasan, perusakan desa, ternak, ladang, dan pepohonan.

Meskipun agama Islam dengan jelas menolak dan tidak membenarkan aksi terorisme, lalu mengapa Islam masih seringkali didakwa sebagai agama teroris? Hal ini tidak lain salah satunya karena adanya ketidakadilan global, yang mana agama Islam sering dijadikan kambing hitam dan mendakwa bahwa beberapa serentetan kejadian di AS, Turki, Afganistan, Irak, Prancis, dan tempat-tempat lainnya, semuanya dilakukan oleh orang “diduga” beragama Islam. Lebih ekstrem lagi, beberapa di antaranya mengklaim bahwa agama Islam adalah akar dari segala jenis kejatahan dan perlu direformasi atau bahkan dibuang dari muka bumi.

Namun di saat bersamaan, mereka seakan lupa bahwa di berbagai macam penjuru dunia ribuan Muslim juga banyak mengalami penindasan dan pembunuhan. Hampir 200.000 Muslim dibantai di Bosnia oleh orang Kristen Serbia; 22.000 wanita Muslim berumur 9-82 tahun diperkosa oleh milisi Kristen; lebih dari satu juta anak di Irak meninggal sanksi PBB yang dijatuhkan AS. Orang-orang Palestina ditindas, dibunuh, dan mengalami kelaparan di kamp-kamp pengungsi yang kotor di bawah pendudukan Israel. Di India, terorisme dan kontra-terorisme telah membunuh 60.000 Muslim dan ratusan orang Hindu di Kashmir.

Dalam masalah ini, permainan politik elit global tidak bisa dilupakan dan diabaikan begitu saja. Terdapat propaganda tersembunyi yang mungkin telah direncanakan dengan begitu matang oleh sekelompok elit global yang membenci Islam. Akibatnya, Islam menjadi korban “fitnah”. Meskipun, serentetan peristiwa terorisme yang terkenal banyak dilakukan oleh orang “yang mengaku” Islam, tindakan semacam itu tidak pernah dibenarkan dan menyimpang jauh dari ajaran agama Islam. Islam adalah agama perdamaian. Hadirnya agama-agama, terutama Islam, di dunia membawa misi perdamaian dan kenyamanan. Saat ada beberapa oknum yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama adalah hal yang tidak bisa diterima dan dibenarkan. Kekerasan yang terjadi bukan karena faktor ajaran agama, melainkan karena faktor lain seperti politik dan kekuasaan.

Charles Kimball memercayai bahwa agama yang otentik selalu merupakan kekuatan untuk kebaikan dan hanya “agama yang rusak” yang mengarah pada kekerasan (2008, hlm. 199–200). Dia menulis,

Whatever religious peoplemay say about their love of God or themandates of their religion, when their behavior towards others is violent and destructive, when it causes suffering among their neighbors, you can be sure the religion has been corrupted and reform is desperately needed (Kimball 2008, p. 47).

Demikian pula, Keith Ward memahami pembenaran agama untuk tindakan kekerasan karena didasarkan pada salah tafsir kitab. Ia menulis,

Some ignore the weightier matters of scriptures – the love of God and neighbour, and the search for compassion and mercy – and choose texts taken out of context and applied without any sense of history or concern for general traditions of interpretation (Ward 2006, p. 37).

Dalam hal ini, Ward lebih berhati-hati daripada Kimball, yang tampaknya percaya bahwa tidak ada agama “asli” di dunia yang membenarkan kekerasan. Ward membatasi klaimnya tentang interpretasi kitab suci yang tepat pada “agama-agama besar dunia” (2006, hlm. 40).

Agama apa pun pada prinsipnya menolak asumsi yang membenarkan kekerasan. Agama menolak kekerasan sebagai prinsip dalam melakukan suatu tindakan. Agama dan kekerasan adalah dua persoalan yang saling menegasikan dan tidak bisa dipadukan (konvergensi). Agama mengakui kekerasan sebagai perumpamaan dari realitas dunia yang  tidak ideal, sarat dengan hawa nafsu dan keberdosaan. Karena itu kekerasan yang secara konstitutif inheren dalam agama justru diarahkan untuk menegasikan realisasi praktik-praktik kekerasan itu sendiri.

Sebenarnya, kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan. Kekerasan selalu bersifat jahat, kriminal atau amoral. Hanya letak persoalannya barangkali bukan di sini, tetapi pada kenyataan bahwa agama dan kekerasan mempunyai keterkaitan ketika dikaitkan dengan pertimbangan etika-religius seperti perang suci (Perang Salib) tadi. Sehingga teks-teks keagamaan seringkali dimaknai dan diplintir untuk tujuan-tujuan tertentu yang berjangka pendek. Penyebaran kekerasan dalam agama justru menjadi alat strategis untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Hal ini dimungkinkan mengingat agama memiliki kemampuan untuk memberi sanksi moral terhadap penerapan kekerasan, sementara kekerasan merupakan kekuatan potensial yang dapat melahirkan entitas-entitas non-legal. Dari sini agama menjadi alat politis yang cukup potensial.[6]

Kekerasan lebih bersifat represif, yang mengandung unsur asusila karena selalu mengutamakan pemaksaan kehendak terhadap orang lain, yang artinya ini juga merupakan pelanggaran terhadap rasa kebebasan dalam interaksi sosial. Moralitas agama adalah kesadaran, kebenaran, dan ketakwaan yang selalu mendorong pemeluknya untuk saling dekat. Agama selalu mempertimbangkan makna hidup, kebenaran, dan tujuan mulia. Sehingga, kekerasan sangat bertolak belakang dengan prinsip keagamaan. Kekerasan adalah antitesis dari agama. Agama apapun pada dasarnya tidak menginginkan kekerasan, atau mengarah pada kekerasan. Munculnya kekerasan atas dasar agama seringkali berawal dari pemahaman doktrin agama yang sepihak.[7] Oleh karena itu, hal ini menimbulkan asumsi dan klaim kebenaran untuk melakukan kekerasan sebagai bentuk pengabdian kepada agama, dan menganggap bahwa agama memberikan legitimasi atas kekerasan yang dilakukan.

Pada akhirnya, kekerasan adalah antitesis agama, tetapi oleh kelompok tertentu, agama sering dianggap sebagai faktor penyulut munculnya kekerasan. Pada dasarnya, agama apa pun di dunia mengajarkan perdamaian dan tidak menghendaki kekerasan. Munculnya kekerasan yang mengatasnamakan agama dikarenakan oleh doktrin keagamaan yang sepihak. Sehingga, hal ini akan menimbulkan asumsi dan klaim kebenaran untuk melakukan kekerasan—terorisme—sebagai bentuk manifestasi―pengabdian kepada agama. Oleh karena itu, agama pun dijadikan alat untuk melegitamsi tindakan tersebut yang menganggap bahwa hal itu adalah hal yang absah sesuai ajaran agama.

Referensi

Mykhalskyi, I. (2018). The Violence Based on Religion as A Factor of The Distribution of The          World Political Process, Vol. 5. No. 3-4, 25-34.

Pape, R. A. (2003) The Strategic Logic of Suicide Terrorism, American Political Science       Review, 97, 3. New York: Random House.

Pedahzur, A. (2006). Roots of Suicide Terrorism: the Globalization of Martyrdom. New York:         Routledge.

Galtung, J. (1969). Violence, Peace, and Peace Research, Journal of Peace Research, 6 (3), 167-191

Murphy, A. R. (2011). The Blackwell Companion to Religion and Violence. Blackwell          Publishing: United Kingdom.

Clarke, S. (2014). The Justification of Religious Violence. John Wiley and Sons Publishing: UK.

Puniani, R. (2005). Religion, Power, and Violence. Sage Publication: London

Isnaeni, A. (2014). Kekerasan Atas Nama Agama. Kalam: Jurnal Studi Agama dan

Pemikiran Islam. Vol. 8 No. 2.

 

[1] Analisis lebih lanjut tentang Kao dapat dibaca pada tulisan Jhon D. Carlos (2011) . “Religion and Violence: Coming to Terms with Terms”: Blackwell Publishing, UK.

[2] Steve Clarke. (2014). The Justification of Religious Violence. Oxford University Press: UK.  

[3] Ibid

[4] Avalos (2005) dan Cavanugh (2009)

[5] Juwaid Quddus. (2015). Islam, Terrorism, and the New World Order. Sage Publication: New Delhi India.

[6] Isnaeni, Kekerasan atas Nama Agama, hal. 219. Diterbitkan pada 2014 oleh Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 08.

[7] Ibid. Hal. 77

Leave a Reply