Aku Melihat Tata Surya Melalui Mimpi Nabi Yusuf

Aku Melihat Tata Surya Melalui Mimpi Nabi Yusuf

  • Post author:
  • Post category:Islami
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:5 mins read

Seri Tadabbur #1| Al-Qur’an Sumber Inspirasi

            Salah satu misteri dalam kisah Nabi Yusuf adalah perihal takwil mimpinya pada saat ia masih kecil, kisah mimpi itu terletak pada bagian awal surat Yusuf, yang seakan memberikan teka-teki dalam kisah ini. Seperti halnya sebuah film yang ber-genre misteri, selalu ada scene atau adegan yang membuat penonton bertanya-tanya, penasaran bahkan turut ikut menjadi detektif dadakan sekedar ingin mencari jawaban dari teka-teki dalam film. Itulah yang aku rasakan ketika membaca surat ini. Tentu bukan bermaksud menafsirkan sebuah ayat atau mengintegrasikannya dengan disiplin ilmu lain, tulisan ini sepele dibuat untuk membagikan pengalaman tadabbur yang aku dapatkan tatkala membaca salah satu surat dalam al-Qur’an.

            Kembali pada topik utama tulisan ini, bahwa Yusuf kecil memimpikan sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya. Ayatnya sebagai berikut,

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

Artinya: “(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”. (Q.S. 12: 4)

Sekilas tampak mimpi Nabi Yusuf terkesan imajinatif, sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud kepadanya, ternyata ketiga benda langit yang dilihatnya adalah simbol dari sebelas saudara Nabi Yusuf dan orang tuanya. Mimpi itu terwujud tatkala Nabi Yusuf telah berhasil mengumpulkan seluruh keluarganya setelah berpisah sekian lama. Begitulah pandangan umum para mufasir terhadap ayat keempat surat Yusuf.

             Ketika mentadabburi ayat tersebut, aku teringat dengan beberapa istilah ilmu astronomi yang tidak ada dalam al-Qur’an, salah satunya adalah planet. Translasi kata kawbab (كَوْكَب) pada ayat tersebut adalah bintang, namun kata kawkab pada masa modern ini telah berkembang, tidak hanya bermakna bintang, akan tetapi juga bermakna planet. Sekalipun demikian, pemahaman manusia pada zaman turunnya al-Qur’an atau bahkan pada masa Yusuf kecil, tidak membedakan atau bahkan mendefinisikan antara planet, bintang, matahari dan benda-benda bersinar di langit lainnya. Hampir semua benda-benda kemerlap di langit malam pada masa itu bisa disebut dengan bintang, walaupun sebenarnya adalah planet. Dari sinilah aku tertarik untuk meninjau ulang informasi tentang tata surya di website resmi NASA khususnya tentang jumlah planet.

            Sejak belajar di sekolah dasar, aku belajar tentang nama-nama planet; Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Ternyata sejalan perkembangan ilmu astronomi, jumlah planet pun bertambah –setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya ilmuan mengeluarkan pluto dari jajaran planet primer (primary planet) dan memasukkannya ke dalam kategori planet kerdil (drawf planet) bersama dengan empat planet baru sehingga terhitung ada lima planet; Pluto, Ceres, Makemake, Haumea, dan Eris. Perubahan ini sejalan dengan perubahan definisi planet, setidaknya ada tiga ciri-ciri planet:

  1. Planet harus mengorbit sebuah bintang (di lingkungan kosmik kita, Matahari).
  2. Planet harus cukup besar untuk memiliki gravitasi yang cukup untuk memaksanya menjadi bentuk bola.
  3. Planet harus cukup besar sehingga gravitasinya membersihkan objek lain dengan ukuran serupa di dekat orbitnya di sekitar Matahari.

Lantas bagaimana Pluto bisa keluar dari jajaran planet primer dan menjadi planet kerdil bersama empat planet lainnya, hal ini berdasarkan ketetapan IAU (International Astronomical Union) mengenai kategori planet dan benda lainnya:

  1. Planet adalah benda langit yang  mengorbit mengelilingi Matahari, memiliki massa yang cukup untuk gaya gravitasi sendiri untuk mengatasi gaya benda kaku sehingga membentuk kesetimbangan hidrostatik (hampir bulat), dan telah membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya.
  2. Sebuah “planet kerdil” adalah benda langit yang mengorbit mengelilingi Matahari,  memiliki massa yang cukup untuk gaya gravitasi sendiri untuk mengatasi gaya benda kaku sehingga ia mengambil bentuk kesetimbangan hidrostatik (hampir bulat), belum membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya, dan bukan satelit.
  3. Semua objek lain, kecuali satelit, yang mengorbit Matahari akan secara kolektif disebut sebagai “Badan Tata Surya Kecil”.

Kembali pada persoalan mimpi Yusuf kecil, tidak ada keterkaitan antara jumlah kesebelas bintang –yang secara umum oleh mufasir ditafsirkan dengan saudara-saudara Nabi Yusuf- ataupun kaitannya dengan planet-planet di tata surya. Apalagi ada usaha-usaha mencocoklogi mimpi Yusuf kecil dengan ilmu astronomi, karena pada dasarnya al-Qur’an tidak sedang berbicara pada konteks astronomi, akan tetapi berbicara tentang realita yang akan terjadi di masa mendatang. Ada beberapa alasan yang harus dipahami, bahwa ilmu pengetahuan akan selalu berkembang dan tidak memiliki batas pembahasan, hal ini sangat memungkinkan adanya perbedaan antara penemuan terdahulu dan terkini. Discussion—and debate—will continue as our view of the cosmos continues to expand (Diskusi — dan debat — akan terus berlanjut karena pandangan kita tentang kosmos terus berkembang). Cek info selengkapnya di https://solarsystem.nasa.gov/planets/in-depth/ .

Sebelum bertemu di seri tadabbur selanjutnya, aku ingin mengungkap hal unik yang bukan ilmu integratif sama sekali. Mengetahui jumlah planet –baik primer maupun kerdil- ada 13, aku mencoba googling di https://id.wikipedia.org/wiki/Yakub mencari tahu putra-putri Nabi Ya’qub, mereka; Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Dina, Yusuf dan Benyamin. Sepertinya sumber dari info tersebut adalah pustaka israiliyat, akan tetapi tetap menarik jika menghitung jumlah putra-putrinya.

Fadhil Achmad A.B.

Leave a Reply