Bagaimana Menjadi Umat Terbaik?

Bagaimana Menjadi Umat Terbaik?

  • Post author:
  • Post category:Islami
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:7 mins read

Resensi Buku

Judul: Wasathiyyah, Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama

Penulis: M. Quraish Shihab

Penerbit: Lentera Hati

Tebal: 188 Halaman

Cetakan: Februari 2020

ISBN: 978-602-7720-94-7

Bagaimana Menjadi Umat Terbaik?

Imam Jalaluddin Muhammad dan Imam Jalaluddin Abdurrahman di dalam Tafsir Jalalain-nya menyebutkan, manusia hidup di beberapa tempat; alam dzurriyah, alam dunia, alam barzakh, dan alam akhirat. Alam dzurriyah adalah alam rahim (kandungan). Kehidupan dalam rahim dimulai saat jabang bayi ditiupkan roh oleh Allah. Kedua adalah alam dunia. Dunia adalah arena bagi umat manusia untuk mengumpulkan serta menabung amal kebaikan sebagai bekal di alam akhirat kelak. Alam akhirat ada setelah umat manusia dibangkitkan dari alam kubur (barzakh). 

Alam akhirat begitu menakutkan. Semua umat manusia pada saat itu dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk ditimbang. Manusia yang timbangan amal salehnya lebih berat akan dimasukkan ke dalam surga. Sedang yang kesalahannya atau dosanya melibihi berat amal kebaikannya, maka oleh Allah akan dimasukkan ke dalam neraka.

Lalu pertanyaannya, apa yang seharusnya dilakukan umat manusia di dunia agar di akhirat kelak tidak menyesal?

Nah, buku ini dalam pandangan saya adalah jawabannya. Salah satu cara munuju pada “keberhasilan” dan keselamatan di dunia maupun akhirat kelak ialah menjadi ummatan wasathan.

Dalam mu’jam­-nya, Al-Ashafani mengemukakan bahwa kata ummah (umat) menunjuk pada semua kelompok yang dihimpun atas sesuatu; agama yang sama, waktu atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka (hlm. 135). Sedangkan kata wasathan/wasathiyyah di Bahasa Indonesia seringkali dimaknai dengan moderasi.

Moderasi sendiri dalam KBBI diartikan sebagai pengurangan kekerasan dan penghindaran ekstremisme. Oleh karena itu, ummatan wasathan dalam konteks ini dapat diartikan dengan posisi suatu kelompok yang berada di tengah-tengah (moderat), tidak ekstrem kanan (radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal).

Maka sejalan dengan ajaran Islam yang universal dan bercorak seimbang, maka al-wasathiyyah secara istilah didefinisikan sebagai sebuah metode berpikir, berinteraksi dan berperilaku yang didasari atas sikap tawazun (seimbang) dalam menyikapi dua keadaan perilaku yang dimungkinkan untuk dibandingkan dan dianalisis, sehingga dapat ditemukan sikap yang sesuai dengan kondisi dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama dan tradisi masyarakat.

Namun, makna wasathan tidak hanya terbatas pada arti tengah-tengah/moderat. Maknanya bisa lebih luas. Kata-kata yang tersusun dengan tiga huruf itu memiliki makna baik, indah, kuat, mulia, dan sebagainya (hlm. 143). Aneka makna yang terhimpun dari huruf  wau (و), sin (س), dan tha’ (ط) itu selalu berarti suatu hal yang positif, kendatipun hurufnya disusun berbolak-balik. Sehingga tidak heran jika umat Islam yang merupakan ummatan wasathan itu dilukiskan oleh oleh QS. Ali ‘Imron (3): 110 sebagai umat paling baik, khayra ummat.   

Selanjutnya, bagaimana agar manusia mendapat “gelar” umat terbaik, khayra ummat?

Sebagai agama yang bersumber dari Allah, ajaran Islam tidak hanya hadir guna mengatur tata cara menyembah dan berhubungan dengan Sang Pencipta (habl min Allah), tetapi kehadiran Islam juga mengatur bagaimana selayaknya seorang muslim bersikap/berperilaku dalam berhubungan sosial, baik kepada sesama manusia (habl min al-naas) atau kepada selainnya (habl min al ‘alam). Dengan demikian, menghimpun sekaligus memperbaiki ketiga hubungan tersebut merupakan salah satu cara agar menjadi umat yang terbaik.

Di sisi lain, dalam buku ini, M. Quraish Shihab mengutip perkataan Sayyidina Umar ibn al Khattab r.a. bahwa “siapa yang ingin meraih keistimewaan ini (khayra ummat), hendaklah dia memenuhi syarat yang ditetapkan Allah itu.” Ada tiga macam syarat yang dapat umat Islam lakukan supaya memperoleh gelar khayra ummat, sesuai dengan yang ditegaskan oleh QS. Ali ‘Imron (3): 110. Yaitu, (a) amar makruf, (b) nahi munkar, dan (c) beriman kepada Allah (hlm. 159).

Pertama, untuk menjadi ummatan wasathan guna meraih gelar khayra ummat, amar makruf tidaklah cukup. Perlu hal lain yang dapat mangatarkan seseorang sampai pada level umat terbaik. Dalam konteks ini, M. Quraish Shihab menambahkan term yad’una ilal khayr (mengajak pada kebaikan), sebagaimana ada pada QS. Ali ‘Imron (3): 104. Amar makruf harus bergandengan dengan yad’una ilal khayr.

Tidak dapat disangkal, bahwa ummatan wasathan ditandai dengan ajakan kebaikan. Manusia perlu selalu diingatkan dan diberi keteladanan. Alasannya karena manusia pada hakikatnya identik dengan sifat lupa dan salah. Saat manusia lupa dan melakukan kesalahan, maka di sinilah pentingnya peran mengajak kembali pada kebaikan. Inilah inti dakwah islmaiyah dan dari sini pula terlihat keterkaitannya dengan kedudukan umat Islam sebagai sebaik-baik umat sekaligus ummatan wasathan (hlm.162).

Sementara itu, memerintahkan pada yang makruf juga adalah karakteristik ummatan wasathan. “Makruf” menurut Az-Zajjaj di sini adalah apa yang baik dari aneka perbuatan. Ia adalah segala yang dianjurkan agama berupa hal-hal baik dan dilarang agama yang berupa hal-hal yang buruk. Dengan demikian, sederhananya ma’ruf dapat dimaknai sebagai adat kebiasaan dalam konteks Islam sekaligus budaya masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah.

Hampir sejalan dengan itu, Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengemukakan bahwa harus adanya dua kelompok dalam masyarakat Islam. Kelompok pertama yaitu mereka yang bertugas mengajak kepada kebaikan, sedangkan yang kedua ialah yang memerintahkan pada kebaikan (hlm. 162). Hal kedua biasa dilakukan oleh orang yang mempunyai kekuasaan. Dengan demikian, yad’u atau mengajakberkaitan dengan al-khayr. Ya’muru atau memerintah berkaitan dengan al-ma’ruf.

Selain amar makruf dan yad’una ilal khayr, syarat yang harus dilakukan oleh seorang muslim ialah nahi munkar. Berbeda dengan al-ma’ruf yang merupakan kebaikan dan hal positif yang sewajarnya diperintahkan, al-munkar adalah hal yang harus dicegah dan dilarang. Namun, yang perlu diingat di sini bahwa al-munkar tidak selalu bersifat negatif, tergantung konteks dan tempat. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu al-Muqaffa’, “apabila yang ma’ruf telah kurang diamalkan maka ia bisa menjadi munkar, sebaliknya apabila yang munkar telah tersebar maka ia dapat menjadi makruf.

Perkataan al-Muqaffa’ ini perlu dipahami lebih jauh serta mendalam. Menurut M. Quraish Shihab di dalam buku ini, bahwa pandangan al-Muqaffa’ ini dapat diterima dalam koteks budaya, tetapi penerimaan atau penolakannya atas nama agama harus dikaitkan dengan nilai-nilai al-khayr. Seperti budaya menghadapi guru atau orang tua dapat berbeda-beda, sehingga di satu tempat ada sikap anak atau siswa yang dianggap tidak sopan, bisa jadi di tempat lain diterima (hlm. 172).

Yang perlu dicatat dari semua yang disampaikan di atas adalah, mempratikkan tiga pokok itu—al-khayr, al-ma’ruf, dan al-munkar—harus dilakukan dengan cara lemah lembut dan kalimat yang sopan. Karena dalam menyampaikan kebaikan bukan hanya persoalan dari mulut ke mulut, tetapi ada hal yang lebih penting dan berpengaruh dari itu, yaitu keluhuran akhlak dan teladan yang baik. Dan ini yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Pada akhirnya, ciri terakhir dari umat terbaik sebagaimana ditegaskan QS. Ali ‘Imron ialah tu’minu billah. Keimanan merupakan aspek terpenting bagi seorang muslim. Seseorang tidak dapat disebut melakukan amal saleh sebelum ia beriman terhadap keesaan Allah dan kerasulan Muhammad Saw. Iman dibutuhkan bukan saja dalam melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, tetapi ia juga sangat dibutuhkan dalam menghadapi kehidupan dengan aneka pancarobanya (hlm. 176-177).

Saat tiga hal di atas—amar ma’ruf, nahi munkar, dan iman kepada Allah—dipraktikkan secara maksimal dan benar di dalam kehidupan, bukan hanya keberkahan dan keselamatan dunia yang didapat, tetapi keselamatan dan kebahagiaan di akhirat kelak juga yang diperoleh. Jadi, mari mulai membumikan kebaikan dan menebar kemaslahatan agar hidup terasa bermakna dan berguna, baik kepada diri sendiri, lebih-lebih kepada orang lain.  

Apa yang saya jelaskan di atas hanya sekelumit penjelasan tentang ummatan wasathan. Penjelesan yang lebih luas, kompleks, dan mendalam mengenai hal demikian, silakan bisa dibaca langsung di dalam buku ini. Buku ini adalah jawaban sekaligus solusi tentang bagaimana seharusnya manusia bersikap dan berperilaku di dalam kehidupan, baik sikap kita terhadap Allah dan terhadap sesama manusia. Dengan Bahasa yang santai dan mudah dipahami, buku ini juga cocok untuk dinikmati oleh kalangan awam. Selamat membaca. Semoga berkah!

                                                                                                Oleh: Moh. Danial Shafran

Leave a Reply