SUDAH BISAKAH MENERIMA DIRI SENDIRI ?

SUDAH BISAKAH MENERIMA DIRI SENDIRI ?

  • Post author:
  • Post category:Umum
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:4 mins read

Ketika  berada dalam fase transisi dari remaja ke dewasa, sebagian besar diantara kita merasakan ada begitu banyak tekanan. Pada fase ini, kita rentan mengalami krisis harga diri. Dimana, kita seringkali merasa tidak berharga sebab melihat pencapaian atau kehidupan oranglain jauh lebih baik. Sedangkan, pada waktu yang bersamaan kita masih disibukkan oleh hal-hal sepele. Sehingga, kita kesulitan untuk mengimbangi waktu yang terus melaju tanpa henti dengan tindakan atau kontibusi yang berarti. Sebagaimana yang dilansir dalam http://news.unair.ac.id/2019/09/18/menghadapi-berbagai-tekanan-di-usia-20-an/   usia 19 tahun-39 tahun merupakan masa yang rentan untuk merasakan berbagai tekanan. Dalam ilmu psikologi, keadaan tersebut dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis.

Quarter Life Crisis merupakan suatu fase dimana seseorang yang tengah menginjak usia 20-an mengalami insecurity, kehilangan motivasi, dan benar-benar bingung akan masa depannya. Menurut Psikolog Endang, hal tersebut merupakan hal wajar. Karena, di setiap transisi fase perkembanagan, seseorang akan mengalami ketegangan. Sampai kapan kita akan mengalaminya ? jawabannya, tergantung dari diri masing-masing. Sebab, setiap orang memiliki laju perkembangan yang berbeda bukan ?

Mengapa saat ini banyak diantara kita yang sudah memasuki usia 20-an dan berstatus sebagai mahasiswa, namun belum memiliki sikap yang matang. Selain itu, juga masih bingung tentang apa yang semestinya dilakukan?Bahkan, ada beberapa teman yang mengeluh karena ia merasa apa yang ia lakukan tidak bisa menjajikan masa depan untuknya. Sehingga, ia selalu berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh  oranglain karena ia menganggap hal itu lebih menjajikanmasa depan. Namun, ia merasa tidak nyaman dan tertekan oleh ambisinya sendiri. Berawal dari hal tersebut, penulis ingin berbagi tentang pentingnya penerimaan diri ketika menghadapi fase life quarter crisis.

Salah satu penyebab quarter life crisis sebagaimana yang dilansir dalam https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU yaitu ketidak siapan seseorang untuk  menerima tuntutan sosial. Ketika berusia 20-an, kita dianggap sebagai sosok orang dewasa dan diberi kepercyaan untuk melakukan berbagai kontribusi. Namun, nyatanya pada usia tersebut tidak semua orang  bisa selesai dengan dirinya sendiri. Akan tetapi, life quarter crisis tidak sepenuhnya buruk. Justeru, fase tersebut bisa menjadi penggerak untuk lebih mengenali  diri sendiri dan memiliki penerimaan diri yang baik. Dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah self acceptance. Sebagaimana argumen Atwood dan Scholtz yang  menyatakan, merasa kehilangan arah dan ketabuan akan tujuan hidup merupakan titik awal pergerakan seseorang untuk mencari jati dirinya. Ketika kita mampu mengenali diri sendiri,  maka kita mengetahui kelebihan untuk bisa dikontribusikan dan kekurangan yang mesti diperbaiki.  Tanpa penerimaan diri yang baik, kita  akan selalu diliputi keraguan terhadap diri sendiri dan selalu berupaya untuk menjadi bayangan oranglain. Bukankah itu merupakan hal yang mustahil bisa berhasil kita lakukan? Penerimaan diri dalam (Seltzer, 2008) yang dilansirhttps://positivepsychology.com/self-acceptance/ merupakansuatu kondisi dimana kita bisa menerima diri kita sepenuhnya meliputi semua aspek dan  tanpa adanya syarat tertentu.

Salah satu ciri penerimaan diri yaitu ketika kita bisa berpikir dan bersikap bijak tentang kesalahan yang kita lakukan dan kekurangan dirikekurangan. Misal, ketika seseorang sadar bahwa ia memiliki kekurangan di bidang tertentu, apabila self acceptance nya bagus ia memiliki keyakinan bahwa masih ada kesempatan untuk mempelajajarinya.Berbeda halnya dengan seseorang yang belum mampu menerima dirinya baik. ketika dia tahu kekurangannya, dia lebih cenderung berpikir “ yaudahlah, mau gimana lagi” tanpa ada usaha untuk memperbaiki diri.

Mengapa kita harus bisa menerima diri sendiri tanpa syarat ? karena, self acceptance berkaitan erat dengan bagaimana cara  kita memandang diri sendiri yang nantinya berpengaruh terhadap pola pikir dan prilaku.  Penerimaan diri yang baik, membantu kita untuk membentuk konsep diri yang positif. Sehingga, kita terus-terusan menjadi seperti remaja yang labil ketika melihat apa yang dilakukan oleh oranglain mendapatkan lebih banyak pengakuan. Penerimaan diri yang baik, membantu kita untuk bisa mandiri dalam mengambil keputusan mengenai tujuan hidup kita sendiri. Selain itu, dengan penerimaan diri yang baik, kita tahu apa yang harus kita lakukan sesuai dengan kebutuhan kita. Dan yang terpenting, ketika kita bisa menerima diri sendiri tanpa syarat, kita tidak akan mudah mengamini semua anggapan buruk orang lain tentang kita. Jadi, kita tidak selalu menjadikan persetujuan atau penilaian orang lain sebagai acuan untuk melakukan kebaikan. Sebagian besar  di antara kita begitu  mudah untuk menerima orang lain tanpa syarat. Akan tetapi dalam hal menerima diri sendiri, hanya orang-orang tertentu yang mampu. Insecure, sebenarnya tidak disebabkan karena kita tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, karena kita terlalu sibuk membanggakan kelebihan oranglain dan menghakimi kekurangan diri sendiri. Sehingga tidak menyadari bahwa sebenarnya kita juga memiliki kemampuan yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang. Sebagaimana kemampuan oranglain yang tidak bisa kita lakukan.

sumber gambar : https://s3-ap-southeast-1.amazonaws.com/ebook-previews/50031/188297/10.jpg

Leave a Reply