Keutuhan Rumah Tangga, Tanggung Jawab Siapa?

Keutuhan Rumah Tangga, Tanggung Jawab Siapa?

  • Post author:
  • Post category:Umum
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:6 mins read

Suatu mahligai pernikahan pada dasarnya adalah sebuah ikatan penyatuan antara dua orang, dua keluarga, juga dua pemikiran. Ketika satu pemahaman memberi arah baru dalam sebuah keluarga, itu bukanlah menjadi masalah jika keduanya dapat menerima. Hingga jika muncul suatu kesalahfahaman dan berbeda pendapat bisa selesai dengan tanpa pertengakaran yang dapat memberi dampak buruk bagi anggota keluarga lainnya.

Sebuah keluarga adalah tempat kita dapat saling bersandar, dengan kata lain rumah adalah tempat terbaik untuk menuahkan segala rasa dan saling memberi cinta dan kasih sayang, bukan sebaliknya. Memang sudah sewajarnya jika beberapa perselisihan ada dalam sebuah keluarga, namun dengan ikatan yang kuat satu sama lain akan dapat menemtramkan hati setiap anggota keluarga. Namun bagaimana jika permasalahan kian memanas dan tidak kian usai? Bagaimana rumah akan menjadi tempat untuk menuahkan segala rasa jika dari rumahlah rasa lelah dan kesesalan itu datang?. Jika demikian siapa yang harus menjadi angin bila bumi tertiup banyak debu?

Banyak pendapat tentang siapa yang harus memegang tuas pengaman dalam suatu ikatan suami dan istri. Seperti menurut kelompok Agama, bahwa sebuah tanggung jawab internal rumah tangga adalah milik berdua, suami dan istri. Memang lah dalam agama, suami berperan sebagai pemandu, pemimpin dalam sebuah keluarga namun tidak dapat dipungkiri bahwa manusia akan melewati masa lelah dan khilafnya, dari itu tanggung jawab bukan hanya disandarkan pada peran suami namun juga istri sebagai tiang pondasi rumah tangga.

Dalam sebuah perselisihan yang tidak ada ujungnya, kelompok agama memberi solusi dengan cara menghadirkan masing-masing keluarga suami dan istri untuk berbicara agar permasalahan tidak berlanjut apalagi sampai perceraian.

Adapun dari segi budaya, mereka berpendapat bahwa keluarga itu harus sering berkomunikasi. Hal tersebut tentu akan menghadirkan rasa saling memiliki dan menghargai satu sama lain, membuat jarak yang dekat antar suami dan istri. Dengan banyak komunikasi,  akan semakin mempersulit jalan adanya perselisihan. Namun jika komunikasi saja tidak dibangun dengan baik, maka solusi pamungkas nya adalah dengan menghadirkan dari keluarga untuk saling berkomunikasi dan berdiskusi, karena jika masalah dibiarkan dan terus menerus tanpa ada penyelesaian, yang menjadi korban adalah anak.

Pada suatu kasus, Jika seorang anak melakukan kesalahan, itu bukan murni kesalahan anak tapi juga kesalahan daripada orang tuanya, seperti kurangnya pendidikan moral dan yang lainnya. Namun banyak yang salah mengira bahwa pendidikan hanya tanggung jawab ibu, padahal peran ayah sangat penting dalam pendidikan anak, demikian adalah menurut kelompok psikologi. mereka menganggap bahwa sejatinya keluarga dibangun dengan komitmen, dalam penyelesaian masalah mereka harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika ada masalah internal keluarga, yang bertanggung jawab adalah suami dan istri, orang lain hanya akan memberi petunjuk untuk menyelesaikan, namun untuk penyelesaian akhirnya tetap ada di tangan suami dan istri

Kelompok feminisme adalah kelompok yang menerapkan kesetaraan gender dalam berbagai bidang. Karena itu, dalam sebah keutuhan keluarga mereka juga memahamkan bahwa kesetaraan gender itu sangat penting dalam keluarga, yakni tanggung jawab yang setara antara perempuan dan laki-laki. Pada dasarnya saat suami dan istri berada dalam suatu perselisihan, antara keduanya memang harus ada yang mengalah, karena jika tidak akan mengakibatkan keluarga di ambang kehancuran. Kelompok ini berpendapat bahwa saat diterpa masalah yang tiada usai, suami dan istri sendirilah yang harus menyelesaikan nya tanpa adanya pihak yang lain.

Sedangkan dalam aspek sosial, keluaga itu adalah tanggung jawab yang dipegang oleh suami dan istri. Suami bukan hanya menafkahi secara lahir pada anaknya tapi juga batin seperti halnya memberi perhatiaan, menyayangi keluarga, dsb. Begitu juga istri pun harus memberi pendidikan yang baik pada anak dari segi moralitas, akademik, sampai agama. Ketika suami dan istri berada dalam kondisi dimana keduanya tidak dapat saling megalah, tidak dapat menyelsaikan masalah, maka penyelsaiannya akan memiliki kadar berbeda pada tiap daerah, karena tidak semua suku di indonesia memiliki karakter yang sama, sehingga tidak dapat disamakan kebiasaan dan tradisi yang digunakan oleh satu suku dengan suku lain. Seperti hal nya di sumatera barat jika suami istri tidak bisa menyelesaikan maka yang bertanggung jawab atas keduanya adalah pada mamak (saudara kandung ibu), jika tidak ada mamak maka bisa dihadirkan mediator (seperti psikolog, dsb), mendatangkan saudara dari pihak suami, istri, mungkin yang memiliki keilmuan dan kefahaman yang luas seputar dunia rumah tangga

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kelompok Agama memandang bahwa suami memikul tanggung jawab yamg lebih daripada istri, namun hal itu tidak seutuhnya demikian. Di sisi lain, feminisme yang mengkaji suatu hal yang meningkatkan peran perempuan, mengingat akan hak-hak perempuan mengungkapkan bahwa peran suami tidak lah lebih tinggi dalam internal keluarga.

Dalam penyelesaian masalah antara suami dan istri, juga bisa dilihat dari sehi konteks sebelum menyimpulkan nya, karena terkadang permasalahan akan bisa semakin membesar jika mereka memindah tanggung jawabkan pada pengacara (mediator) begitu juga sebaliknya, bisa jadi dengan menghadirkan pihak ketiga (mediator) akan dapatbantu permasalahan keluarga.

Dalam sebuah sesi tanya jawab antar kelompok, ada dari mereka mengungkapkan makna hakikat daripada tanggung jawab dalam keluarga, yakni sebuah konsekuensi yang didapatkan oleh pihak yang bersangkutan (suami dan istri). Jadi pernikahan sendiri merupakan dua  penyatuan, yang mana awalnya mereka adalah orang yang berbeda misi, berbeda pemikiran, dan berbeda dalam berbagai hal. Karena pada dasarnya mereka bersama untuk saling melengkapi, konsekuensi itu muncul saat kita harus menerima pasangan apa adanya, dimana kita harus datang untuk melengkapi kekurangan nya. Selain itu, tanggung jawab dalam keluarga adalah kesadaran melakukan  dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas apa yang seharusnya ditanggung. Dimana kepekaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan suami istri, saat yang satu tidak maka yang lain nya harus bersedia dan begitu juga sebaliknya.

Adapun tanggung jawab orangtua pada anak setelah pernikahan tetaplah ada, tetap turut mengarahkan anak pada yang terbaik, tetap membimbing anak dalam segala hal dengan tetap mendukung keputusan nya dan memahami pendapat nya. Kelompok Agama berpendapat demikian karena,  hal tersebut tidak lain karena masa depan anak tergantung pada pola asuh yang diajarkan orang tuanya, maka dari itu sebagai orangtua yang anaknya sudah menikah tetaplah harus dibimbing, agar anaknya juga dapat terdidik dengan didikan yang baik. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua mendidik anaknya sejak sebelum menikah. Dan setelah menikah, tetap ada tanggung jawab membimbing namun tidak seperti sebelum menikah. Karena dalam pernikahan akan ada sebuah penyerahan tanggung jawab dari pihak orang tua pada pihak suami.

Demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya banyak sekali aspek yang harus dilihat dalam memahami suatu hal. Seperti hal nya tanggung jawab rumah tangga, tidak dapat disimpulkan dengan hanya satu pemahaman saja karena setiap kebaikan dan keburukan akan berbeda jika dilihat dari sudut pandang yamg berbeda pula.

Leave a Reply