Memanusiakan Manusia Menurut Pandangan Saadi Shirazi

Memanusiakan Manusia Menurut Pandangan Saadi Shirazi

  • Post author:
  • Post category:Islami
  • Post comments:1 Comment
  • Reading time:7 mins read

Oleh: Ach. Ghifari

Kehidupan di era modern sekarang telah memasuki era yang mana nilai-nilai kemanusiaan sudah semakin luntur. Jiwa kemanusiaan yang seharusnya memberikan kenyamanan dan ketentraman terhadap orang lain lantas digunakan dengan cara  yang salah. Fenomena ini kerap kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat ataupun di negara yang tercinta ini. Jika terus-menerus terjadi bahkan sampai menjadi sebuah tradisi sosial masyarakat, lalu bagaimana nasib kemanusiaan selanjutnya. Sedangkan kalau melihat di berbagai berita, tak jarang kita temui semacam penindasan terhadap martabat manusia.

Kalau kita pernah berfikir, sebenarnya siapa itu manusia? Apakah hanya bentuk wujudnya saja? Atau hanya pura-pura menjadi manusia? dari pertanyaan tersebut penting sekali kita tanyakan sebagai makhluk yang berakal.

الانسان حیوان الناطق

Dalam hal ini manusia harus memiliki rasa atau sifat kemanusiaan yang terpatri dalam benaknya sebagai wujud manusia yang nyata. Namun yang terjadi belakangan ini adalah dia wujudnya manusia tapi tidak memberikan esensi sebagai manusai. Logika sederhananya begini, hidangan masakan tidak mungkin ia dikatakan masakan, jika tidak mempunyai selera atau cita rasa masakannya.  Polisi atau tentara ia tidak akan disebut dengan polisi atau tentara jika tidak memiliki sifat kepolisian atau ketentaraannya. Manusia pun juga begitu, selamanya ia tidak akan disebut sebagai manusia, jika ia tidak memiliki sifat kemanusaiaannya.

Seorang sastrawan Persia, Saadi Shirazi atau Abu Muhammad Muslih al-Din bin Abdullah Shirazi berkata;

“Jika kalian redam dan bumi hanguskan setiap keegoan yang ada dalam diri kalian, maka niscaya setiap nafas yang kalian hembuskan adalah arti dari kemanusiaan.”

(Gazaliyat, Gazal 18)

Tokoh di atas adalah bapak kemanusiaan yang hampir terlupakan di era modern sekarang. Beliau lahir 1210 dan wafat pada tahun 1291 atau 1292 dan memiliki keturunan bangsa Persia. Sejak mudanya giat dalam mencari ilmu pengetahuan hingga sampai ke berbagai belahan dunia. Saadi Shirazi pernah belajar di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu itu dijadikan sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan dunia. Disana beliau banyak mengenyam ilmu pengetahuan terutama ilmu keagamaan.

Setelah dirasa lama menimba ilmu di kota Baghdad, beliau melanjutkan pengembaraannya ke Syiria, kemudian lanjut ke Etopia dan yang terakhir sampai ke negeri  maroko. Apabila ada orang yang menjuluki beliau sebagai Marco polo-nya ilmu pengetahuan tidak heran lagi, karena mulai dari timur tengah sampai ujung barat dunia beliau susuri dengan api semangatnya.

Pengembaraannya di berbagai belahan dunia dalam rangka jihadul ilmi sangat begitu lama, Saadi Shirazi memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya yaitu di kota Shiraz, Persia, Iran. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan oleh pemerintah setempat terutama oleh pemimpin yang bernama Saadi yang kebetulan dari segi namanya juga sama dengan Saadi Shirazi. Kedatangan saadi memberikan pengaruh besar terhadap perubahan pengetahuan terutama di bidang sastra.

Beliau memiliki buku fenomenal pada zamannya yaitu buku yang berjudul Bostan. Buku tersebut kemudian dihadiahkan secara khusus kepada pemimpin kota Shiraz. Banyak wejangan-wejangan yang disampaikan di dalam buku tersebut sehingga menjadikan Saadi Shirazi dijuluki sebagai bapak kemanusiaan. Selain itu juga puisi yang dikarang oleh beliau yang bertema “Bani Adam” dipajang di atas pintu gerbang PBB. Ini memberikan indikasi bahwa beliau sangat berkontribusi di bidang keilmuan dan kemanusiaan.

Berbicara kemanusiaan, kemungkinan terbesar yang menjadi pemicu keburukan diantaranya adalah keegoan yang tidak terkendali. Sebagaimana yang dituangkan di dalam puisi Gazaliat di atas. Untaian tersebut mengajarkan kepada kita untuk menjinakkan dan meluluhlantahkan sifat egoisme itu sendiri. Sifat keegoan merupakan sifat  tercela yang ada, namun oleh Saadi Shirazi tidak diartikan demikian, tapi sebagai asal muasal keburukan yang ada.

Jangan sampai sifat keegoan menyebar pada kehidupan di era modern sekarang, mari kita pupuk dengan rasa keluesan. Junjung tinggi rasa kemanusiaan yang sudah tertanam di dalam jiwa untuk memberikan kedamaian pada ummat muslim. Sebagaimana yang disebut di atas manusia tidak disebut dengan manusia jika tidak memiliki sifat kemanusiaan. Marilah menjadi manusia yang sejati dengan membumi hanguskan sifat egoisme. Waallhu a’lam.

Kehidupan di era modern sekarang telah memasuki era yang mana nilai-nilai kemanusiaan sudah semakin luntur. Jiwa kemanusiaan yang seharusnya memberikan kenyamanan dan ketentraman terhadap orang lain lantas digunakan dengan cara  yang salah. Fenomena ini kerap kali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di masyarakat ataupun di negara yang tercinta ini. Jika terus-menerus terjadi bahkan sampai menjadi sebuah tradisi sosial masyarakat, lalu bagaimana nasib kemanusiaan selanjutnya. Sedangkan kalau melihat di berbagai berita, tak jarang kita temui semacam penindasan terhadap martabat manusia.

Kalau kita pernah berfikir, sebenarnya siapa itu manusia? Apakah hanya bentuk wujudnya saja? Atau hanya pura-pura menjadi manusia? dari pertanyaan tersebut penting sekali kita tanyakan sebagai makhluk yang berakal.

الانسان حیوان الناطق

Dalam hal ini manusia harus memiliki rasa atau sifat kemanusiaan yang terpatri dalam benaknya sebagai wujud manusia yang nyata. Namun yang terjadi belakangan ini adalah dia wujudnya manusia tapi tidak memberikan esensi sebagai manusai. Logika sederhananya begini, hidangan masakan tidak mungkin ia dikatakan masakan, jika tidak mempunyai selera atau cita rasa masakannya.  Polisi atau tentara ia tidak akan disebut dengan polisi atau tentara jika tidak memiliki sifat kepolisian atau ketentaraannya. Manusia pun juga begitu, selamanya ia tidak akan disebut sebagai manusia, jika ia tidak memiliki sifat kemanusaiaannya.

Seorang sastrawan Persia, Saadi Shirazi atau Abu Muhammad Muslih al-Din bin Abdullah Shirazi berkata;

“Jika kalian redam dan bumi hanguskan setiap keegoan yang ada dalam diri kalian, maka niscaya setiap nafas yang kalian hembuskan adalah arti dari kemanusiaan.”

(Gazaliyat, Gazal 18)

Tokoh di atas adalah bapak kemanusiaan yang hampir terlupakan di era modern sekarang. Beliau lahir 1210 dan wafat pada tahun 1291 atau 1292 dan memiliki keturunan bangsa Persia. Sejak mudanya giat dalam mencari ilmu pengetahuan hingga sampai ke berbagai belahan dunia. Saadi Shirazi pernah belajar di Madrasah Nizamiyah yang pada waktu itu dijadikan sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan dunia. Disana beliau banyak mengenyam ilmu pengetahuan terutama ilmu keagamaan.

Setelah dirasa lama menimba ilmu di kota Baghdad, beliau melanjutkan pengembaraannya ke Syiria, kemudian lanjut ke Etopia dan yang terakhir sampai ke negeri  maroko. Apabila ada orang yang menjuluki beliau sebagai Marco polo-nya ilmu pengetahuan tidak heran lagi, karena mulai dari timur tengah sampai ujung barat dunia beliau susuri dengan api semangatnya.

Pengembaraannya di berbagai belahan dunia dalam rangka jihadul ilmi sangat begitu lama, Saadi Shirazi memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya yaitu di kota Shiraz, Persia, Iran. Kedatangannya disambut dengan kegembiraan oleh pemerintah setempat terutama oleh pemimpin yang bernama Saadi yang kebetulan dari segi namanya juga sama dengan Saadi Shirazi. Kedatangan saadi memberikan pengaruh besar terhadap perubahan pengetahuan terutama di bidang sastra.

Beliau memiliki buku fenomenal pada zamannya yaitu buku yang berjudul Bostan. Buku tersebut kemudian dihadiahkan secara khusus kepada pemimpin kota Shiraz. Banyak wejangan-wejangan yang disampaikan di dalam buku tersebut sehingga menjadikan Saadi Shirazi dijuluki sebagai bapak kemanusiaan. Selain itu juga puisi yang dikarang oleh beliau yang bertema “Bani Adam” dipajang di atas pintu gerbang PBB. Ini memberikan indikasi bahwa beliau sangat berkontribusi di bidang keilmuan dan kemanusiaan.

Berbicara kemanusiaan, kemungkinan terbesar yang menjadi pemicu keburukan diantaranya adalah keegoan yang tidak terkendali. Sebagaimana yang dituangkan di dalam puisi Gazaliat di atas. Untaian tersebut mengajarkan kepada kita untuk menjinakkan dan meluluhlantahkan sifat egoisme itu sendiri. Sifat keegoan merupakan sifat  tercela yang ada, namun oleh Saadi Shirazi tidak diartikan demikian, tapi sebagai asal muasal keburukan yang ada.

Jangan sampai sifat keegoan menyebar pada kehidupan di era modern sekarang, mari kita pupuk dengan rasa keluesan. Junjung tinggi rasa kemanusiaan yang sudah tertanam di dalam jiwa untuk memberikan kedamaian pada ummat muslim. Sebagaimana yang disebut di atas manusia tidak disebut dengan manusia jika tidak memiliki sifat kemanusiaan. Marilah menjadi manusia yang sejati dengan membumi hanguskan sifat egoisme. Waallhu a’lam.

This Post Has One Comment

  1. Ud'Hiyata

    Tulisan menarik, isinya sangat related dengan kehidupan masa kini. Semoga yang membaca tulisan ini tidak hanya membaca untuk dirinya sendiri, bisa disebarluaskan hingga banyak manusia yang sadar pentingnya memanusiakan manusia yang lainnya. Thanks,❤️

Leave a Reply