Memikirkan Kembali Ajaran Kasih Sayang dalam Agama

Memikirkan Kembali Ajaran Kasih Sayang dalam Agama

dokumentasi acara DILAN 17 September 2021

 

Beberapa waktu lalu, Indonesia kembali dihebohkan dengan satu peristiwa kekerasan berupa penyerangan pada sebuah masjid di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Meskipun tidak ada korban, Masjid Miftahul Huda milik jamaah Ahmadiyyah ini mengalami kerusakan cukup parah akibat dibombardir oleh sekelompok oknum yang, katanya, mewakili Islam.

Peristiwa ini secara tidak langsung menambah daftar rentetan kasus kekerasan dan intoleransi atas nama SARA. Jika diperhatikan, konflik SARA, terutama yang mengatasnamakan agama, bukanlah sebuah hal baru yang terjadi di Indonesia.

Serangkaian peristiwa seperti, penyerangan terhadap kelompok Syi’ah di Sampang, Madura, di tahun 2012, persekusi terhadap kelompok Islam Ahmidiyah di Banten pada 2016, meledaknya bom di bebagai tempat di Surabaya pada 2018, dan banyak pelanggaran lainnya, merupakan bukti bahwa sikap toleran terhadap perbedaan dan keragaman masih sangat minim pada sebagian kalangan masyarakat Indonesia.

Anehnya, sikap intoleran yang muncul kebanyakan berasal dari “umat” yang mengaku Islam. Bahkan, beberapa di antaranya mengatakan bahwa perilaku tersebut adalah sebuah jihad yang absah secara ajaran agama. Agama dijadikan alat untuk meligitimasi tindakan tersebut. Sehingga, ajaran agama yang dianut orang-orang seketika menjadi sebuah ancaman yang menyeramkan karena ulah suatu oknum yang menghilangkan esensi pemahaman agama yang sangat menyongsong toleransi, kemanusiaan, dan perbedaan.

Secara teori sosial, penyerangan, diskriminasi, pendiskreditan, dan persekusi yang dilakukan kelompok mayoritas terhadap yang minoritas sangat rentan terjadi. Addison (2017) mengatakan, kelompok besar (mayoritas) memang cenderung melakukan tindakan yang bersifat diskriminatif dan menyudutkan kepada kelompok yang lebih kecil (minoritas). Apalagi ditambah dengan arogansi dan sifat egosentris pemeluk agama. Sebagaimana disebutkan pada peristiwa yang terjadi di atas.

Islam, sebagai agama mayoritas, hampir secara menyeluruh mencerminkan masyarakat Indonesia secara tidak langsung. Saat terjadi konflik antar kelompok yang “biang keroknya” adalah orang Islam, maka hal tersebut kemungkinan besar akan mencoreng nama umat Islam Indonesia yang dikenal sangat ramah, santun, dan toleran, menjadi menakutkan, intoleran, dan brutal.

Jika perlakuan tidak adil seperti persekusi dan ekploitasi seperti di atas secara kontinu dilakukan kepada kelompok minoritas, maka jangan heran jika kedepannya nama baik umat Islam di Indonesia akan pudar. Nilai luhur agama Islam yang menjunjung kasih sayang sekaligus rahmat bagi seluruh alam lambat laun pun akan ikut luntur akibat ulah oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Meluruskan Pemahaman

Berangkat dari serangkaian peristiwa di atas, timbul sebuah pertanyaan. Pertanyaan paling mendasar ialah, “apakah benar agama mengajarkan kekerasan?” dan “apakah kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum tersebut dianggap sah secara ajaran agama?”

Dalam hal ini, beberapa pendapat cendikiawan Islam dan Barat dapat dijadikan landasan untuk menjawab. Beberapa di antaranya ialah Pape (2005) dan Godin (2006) yang berasumsi bahwa tindakan kekerasan seperti persekusi, terorisme, dan semacamnya bukanlah hal yang dibenarkan oleh agama pun, termasuk Islam. Kelompok-kelompok yang merancang kekerasan atas nama agama itu ialah murni karena dalih politik dan/atau kekuasaan.

Selain itu, Kimball (2008) menegaskan kehadiran agama di dunia ialah membawa misi kasih sayang, perdamaian dan keharmonisan. Ajaran agama yang otentik ialah selalu tentang “pemaksaan” pada kebaikan dan hanya agama rusak (corrupted religion) yang membawa pada kekerasan. Dalam bukunya, ia menulis, “…saat perilaku mereka (suatu kelompok) kepada yang lain adalah kekerasan, bersifat destruktif, dan menyebabkan penderitaan, itu sudah diyakini bahwa ajaran agama telah dirusak.”

Di sisi lain, Ward (2006) memahami bahwa kekerasan dengan membawa nama agama disebabkan oleh kedangkalan pemahaman pada sebuah teks keagamaan. Tindakan kekerasan yang menurut mereka adalah sebuah jihad yang absah menurut agama merupakan kesalahan atau misinterpretasi pada ayat-ayat kitab suci. Hal ini dikarenakan para pelaku kekerasan melakukan penafsiran tanpa memandang konteks sejarah mengapa ayat-ayat itu turun. Secara sederhana, ia percaya bahwa tidak ada agama “asli” yang menjustifikasi tindakan kekerasan. Dengan dalih apa pun.

Asumsi yang hampir senada juga pernah disampaikan oleh salah satu cendikiawan bernama Juwaid Quddus (2015). Dalam artikel yang berjudul Islam, Terrorism, and the New Order, ia menulis bahwa kelompok yang sering mengkambinghitamkan agama untuk tujuan kekerasan merupakan orang-orang dengan pengetahuan agama yang sangat terbatas dan tidak mendalam. Mereka lebih dipantas disebut sebagai “penjual propaganda” yang menyamar menjadi penganut agama.

Agama Islam, menurut Quddus dan mayoritas ulama, merupakan agama yang penuh toleransi dan kasih sayang. Agama Islam yang sebenarnya tidak pernah membenarkan kekerasan. Namun, Islam mengizinkan melakukan pembelaan saat merasa terancam atau teraniaya. Di dalam QS. Al-Hajj: 39 secara khusus dinyatakan,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا۟ ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

            “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguhnnya Allah Mahakuasa menolong mereka itu”

Ayat di atas menyiratkan bahwa umat Islam diberikan hak untuk berperang saat merasa terancam, tersudutkan, diperangi, dan menjadi sasaran kekerasan. Namun, ayat ini bukan berarti sebuah dukungan untuk mengabsahkan tindakan kekerasan tanpa alasan yang jelas.
Bahkan al-Quran memberikan batasan tertentu dan menetapkan kode perilaku dalam peperangan guna menjadikan perang yang beradab dan manusiwai. Batasan-batasan tersebut mencakup tidak menyerang orang yang terluka, tidak menyerang atau membunuh non-pejuang seperti orang tua, anak-anak, wanita, tokoh agama tertentu yang sedang beribadah. Selain itu, Islam secara khusus juga melarang membunuh tawanan perang, melakukan penjarahan dan perampasan, perusakan desa, ternak, ladang, dan pepohonan.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam pada hakikatnya merupakan agama yang sangat menjunung tinggi kemanusiaan dan kasih sayang, kendati pun kepada mereka yang membenci dan memeranginya. Agama Islam, begitu pun agama lain, mengajarkan perdamaian dan tidak menghendaki kekerasan. Kekerasan adalah antitesis agama. Agama dan kekerasan adalah hal yang saling menegasikan dan tidak bisa dipadukan.

Kehadiran Islam ialah sebagai upaya untuk mengembangkan hubungan antar manusia yang pluralis, dialogis, humanis, dan toleran. Inilah sebuah konsep agama yang rahmatan lil ‘alamin. Agama yang membawa kenyamanan dan ketentraman terhadap sesama manusia. Wallahua’alam!

 

*Tulisan di atas adalah saringan dari hasil diskusi Bulanan Halaqah Ilmiah tgl 18 September 2021

Mohammad Danial Shafran

Pernah nyantri di PP. Annuqayah, Sumenep dan Ma’had Sunan Ampel al Aly, UIN Maliki Malang. Alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

 

 

Leave a Reply