Menuju Harmonisasi Agama
People of different ages and nationalities having fun together

Menuju Harmonisasi Agama

Oleh: Ach. Ghifari

Konflik yang sering menghantui dan tidak kunjung usai di Indonesia adalah masalah toleransi beragama. Agama yang seharusnya sebagai elemen penting untuk menciptakan keutuhan bangsa yang saling menghormati antar satu sama lain malah menunjukkan sifat intoleransi. Bermacam konflik telah terjadi di ranah masyarakat seperti kasus pengeboman di tempat ibadah umat Kristen di Makassar. Hal ini dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan masyarakat terhadap toleransi beragama di tengah lingkungan pluralistik. Dengan demikian pengetahuan agama ini harus ditanamkan pada masyarakat agar mampu menjaga keutuhan bangsa secara harmonis.

Secara etimologi harmoni adalah proses dari suatu upaya. Sedangkan menurut terminologi Harmonisasi adalah merupakan keteraturan sosial yang membentuk sistem kemasyarakatan, pola hubungan, dan kebiasaan yang aman untuk mencapai impian masyarakat. (Paul B.iHorton, dan Chester L. Hunt, 1993: 157). Dari sini dapat disimpulkan bahwa harmonisasi adalah membudidayakan kehidupan bersosial dengan damai tanpa mengusik orang lain. Mengusik berarti dia telah mencemari eksistensi keharmonisan dalam membentuk rekonstruksi agama. Sedangkan agama adalah sebuah kepercayaan yang dianut untuk menyembah kepada Tuhan yang maha kuasa sebagai kebenaran.

Maka Implementasi nilai-nilai harmonisasi agama di tengah masyarakat pluralistik sangat penting dilakukan seperti hal-Nya membudayakan hidup rukun, damai, dan saling menghormati. Akulturasi budaya seperti ini jangan sampai luntur agar pemahaman masyarakat yang dangkal terhadap memahami keberagamaan dapat menerapkan itu semua secara menubuh. Aktifitas kehidupan sosial yang dikontruksi seperti itu niscaya akan mengalami perubahan baik di lingkungan masyarakat plural sehingga meminimalisasi stigma negatif terhadap agama.

Melihat kearifan lokal di Indonesia dalam menciptakan hidup toleransi dan keberagaman tidak tumbuh secara sendiri, akan tetapi butuh suntikan pendidikan agama yang mampu menguatkan harmonisme dan multikulturalisme. Pendidikan agama ini yang nantinya secara progresif akan memobilisasi masyarakat dalam rangka penanaman agama pluralisme, penghargaan identitas, dan kebenaran agama yang lain. Sayangnya di dalam pendidikan formal di Indonesia masih mengaplikasikan pendidikan agama yang berorientasi pada spirit dalam berdakwah. Oleh karena itu sangat penting adanya reorientasi pendidikan agama untuk mengambil peran dalam mengakomodasi kebersamaan terhadap relasi beragama.

Reorientasi pendidikan agama ini dapat diterapkan melalui empat dimensi. Pertama, mentransformasikan studi agama ke dalam studi relegiusitas. Kedua, menginterpretasikan nilai-nilai kemajemukan beragama untuk meningkatkan pemikiran bahwa agama tidak hanya satu. Ketiga, mengukuhkan karakter untuk bersikap toleran serta memberikan penghargaan diantara umat beragama. Keempat, dalam sistem pembelajaran ilmu-ilmu keagamaan penting untuk dijabarkan historis agama dari doktrin-doktrin keagamaan tersebut. (Ngainun Na’im dan Ahmad Sauqi, 2008: 176-182).

Keberlangsungan reorientasi pendidikan agama akan memberikan dampak positif terhadap pemahaman agama dan prilaku sosial dalam kehidupan. Konsepsi tentang perbedaan agama yang awalnya dipandang sebuah keasingan menjadi agama yang sejuk. Lambat laun terbentuklah saling menghargai dan menjaga kerukunan antar sesama dengan penuh kasih sayang. Pendidikan agama mengambil peran untuk menuju pada pembebasan dari doktrin-doktrin yang membelenggu  dari sifat yang intoleran dan eksklusif. (Paulo Freire, 2007: 83)

Keberagamaan agama merupakan sunnatullah di penduduk bumi ini. Jadi kiprah pemuda inklusif yang nanti akan menjadi aset bangsa kedepannya, sejatinya menerapkan nilai-nilai keagamaan dengan harmonis dan saling menghormati. Agar kerukunan antar umat beragama semakin erat sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing. Menjaga keutuhan beragama adalah hak kita bersama sebagai warga Indonesia dengan tanpa adanya unsur kekerasan, penghinaan, dan diskriminasi. Marilah kita berjalan sesuai dengan agama yang kita anut tanpa mengatakan agama yang kita imani adalah agama yang paling benar. Karena sudah termaktub di dalam kitab suci agama Islam surat al-Kafirun ayat 6: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku”.

This Post Has 2 Comments

  1. Mirna Safrillya

    saya setuju, dengan pernyataan kak ghifari, bahwa di indonesia ini masih kurang berorientasi dengan agama, apalagii saat berada disekolah, mungkin lebih dominan mempelajari materi pembelajaran agama yang sifatnya pengetahuann saja, dan mungkin dari itu semua masih banyak yang harus dipelajari.
    Saat ini juga di indonesia, untuk sifat toleransi juga kurang

    Saya setuju dengan pernyataan tersebut, dan semoga harapan kedepannya juga lebih baik

    1. msaahi

      Terimakasih telah membaca artikel kami, juga masukan yang diberikan, semoga bermanfaat!!

Leave a Reply