MILENIAL ANTARA TANTANGAN DAN KEBUTUHAN MENCINTAI DIRI SENDIRI

MILENIAL ANTARA TANTANGAN DAN KEBUTUHAN MENCINTAI DIRI SENDIRI

  • Post author:
  • Post category:Umum
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:4 mins read

“Self-love is the primary relationship you’ll have in your life. The more you develop this relationship the more fulfilling your life will be”. (Dr. Aaron Krasnow)

            Hidup sempurna dengan memiliki wajah dan tubuh yang indah, rumah mewah, dan memiliki segalanya adalah dambaan semua orang. Hidup dengan nyaris sempurna. Namun, dongeng tetaplah dongeng. Tidak akan ada pangeran berkuda putih yang datang dan mengubah kehidupanmu menjadi “live happily ever after”.

            Di era millenial seperti sekarang ini, kita dapat dengan mudah saling melihat kehidupan masing-masing melalui sosial media. Orang-orang memposting aktivitas, hobi, rumah, dan diri mereka dengan bebas. Lalu, mucullah masalah baru, dimana postingan di sosial media yang sebenarnya hanya merepresentasikan bagian kecil dari kehidupan seseorang, mejadi dambaan kehidupan orang lain. Kita berusaha untuk membuat diri kita setara atau terlihat sama dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih “sempurna” dari kita, padahal diri kita tidak mampu. Akhirnya, standar kesempurnaan yang dibuat oleh kita sendiri memperumit kehidupan yang memang sudah jatuh bangun kita merangkainya.

            Maka, hal ini kemudian menjadi tantangan tersendiri bagi generasi millenial. Di antara kecamuk batin dan keinginan-keinginan untuk tampil sesuai standar yang orang-orang buat, menjadi sumber kesenangan orang lain, menjadi kita dibawah tekanan yang pada akhirnya akan membuat kita stress dan hilang arti ketika tak dapat mewujudkannya. Kita butuh berhenti dan mulai untuk mencintai diri sendiri atau self-love.

            Mencintai diri sendiri adalah rasa penerimaan terhadap diri kita apa adanya. Kita menerima segala hal yang sudah diri kita miliki, entah itu strenght atau weakness, kita harus sadari bahwa semua itu adalah diri kita. Sama halnya ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita pasti selalu ingin menjaganya, memastikan kesehatannya, memastikan ia tidak terluka, dan memastikan ia selalu bahagia. Seperti itu pula mencintai diri sendiri. Keinginan untuk memeluk dan menerima diri kita harus menjadi prioritas dalam kehipuan masing-masing. Sebab bagaimanapun, sesempurna apapun kehidupan yang kita lihat dari orang lain, akan memiliki cacat yang berusaha mereka sembunyikan sendiri-sendiri.

            Hal ini selarasa dengan teori yang dikemukakan salah seorang psikiater Swiss, Carl Gustav Jung, yang terkenal dengan teori psikonalisisnya. Ia membagi diri manusia menjadi tiga level, persona, shadow,dan the self. Persona atau topeng adalah wajah yang ingin kita tampilkan pada dunia. Dengan kata lain, kita ingin menjadi seseorang dengan standar yang ditentukan mayoritas orang. Bahwa memiliki tubuh langsing, kulit putih, dan wajah mulus itu cantik. Bahwa selalu tertawa, tak pernah terlihat susah adalah tanda orang yang memiliki kehidupan yang sempurna. Padahal, jauh di dalam diri mereka, tersimpan memori buruk, kekhawatiran, ketakutan, dan hal tak menyenangkan lainnya yang ingin mereka sembunyikan dari selain mereka. Hal ini yang kemudian dinamakan shadow atau bayanga. Sebagaimana orang yang memakai topeng, bayangan dari diri yang sesungguhnya tersembunyi di balik topeng yang mereka kenakan. Di antara dua hal baik dan buruk ini, ada satu sisi dalam diri kita yang menjadi penengah. Menjadi malaikat bagi diri kita, yaitu the self atau penerimaan diri. Ia menjadi pengontrol diri. Seseorang yang sudah mencapai level ini, akan lebih menerima segala hal baik dan buruk dalam dirinya. Memeluk segala luka, dan lebih mudah pula mengapresiasi diri.

            Begitulah self-love dibangun. Mungkin, untuk memulai mencintai diri sendiri tidaklah semudah kedengarannya. Kita lebih mudah mencintai hal-hal indah, daripada hal buruk yang tampak dan nyata. Kita lebih mudah bahagia dengan pujian dan pengakuan dari orang lain. Kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, sehingga ketika mereka pergi, kita hancur dan patah. Perlahan, mulailah membuka pikiran, melihat lebih luas dan lebih dalam pada diri sendiri. Berhenti membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan orang lain. Tentukan kebahagiaan, kebebasan, dan perkembanganmu atas hidupmu sendiri. Kamu yang lebih tahu dirimu. Setiap orang sedang berjuang dengan jalannya masing-masing. Tak mudah memang, tapi mari berjuang bersama. Apresiasi dirimu yang sudah bertahan denganmu sejauh ini. Love yourself J

            Widatul Fajariyah, a person, definitely a woman, who plants memories in her garden, whether it is sweet, or bitter sweet.

Leave a Reply