Pak Ponjen, Ritual di Pernikahan Si Bungsu

Pak Ponjen, Ritual di Pernikahan Si Bungsu

  • Post author:
  • Post category:Umum
  • Post comments:1 Comment
  • Reading time:3 mins read

Oleh: Silvia Ifta F.

Indonesia memiliki berbagai macam adat dan budaya yang berbeda-beda, bahkan disetiap acara mereka, ada adat dan budaya yang dijadikan sebagai pedoman mereka dalam melaksanakannya. Termasuk dalam pernikahan. Nah, ada adat pernikahan unik yang berasal dari Jawa Tengah, terutama di daerah Jepara. Namanya ‘Pak Ponjen’ yaitu ritual khusus yang dilaksanakan pada pernikahan anak bungsu, sebagai wujud rasa syukur, doa serta memberi bekal atas selesainya tugas orang tua dalam mengantarkan anak-anaknya ke jenjang pernikahan.

Kata “Pak Ponjen”, berasal dari kata bahasa Arab فَازَ – يَفُوْزُ – فَوْزًا  yang memiliki arti kemenangan, sukses dan berhasil. Kata lain ulo-ulo mandeng dari bahasa arabnya “aula-aula manda” (awal mana, yang dulu mana). Pak Ponjen merupakan perpaduan antara budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam. Budaya Jawa yang animistis magis dan nilai-nilai Islam yang monotheistis maka terjadilah pergumulan yang menghasilkan Jawa Islam yang sinkretis dan Islam yang puritan. Dengan metode manut ilining banyu, konon para walisongo yang sangat toleran dalam menyampaikan ajaran islam ditengah masyarakat jawa yang sebelumnya telah memiliki keyakinan membiarkan adat istiadat jawa tetap hidup, tetapi diberi warna keislaman seperti : bacaan mantra pada awal upacara pak ponjen diganti dengan bacaan surat alfatihah, tahlil, tahmid, tasbih atau kalimah thoyyibah, sesaji digantidengan selametan dan lain-lain.

Pak Ponjen telah dilaksanakan dan bahkan sampai sekarang masih di-uri-uri kelestariannya oleh masyarakat sekitar agar tidak tertelan oleh arus modernisasi. Selain sebagai ritual, acara tersebut juga merupakan wahana silaturrahmi antar warga yang selalu ditunggu pelaksanaannya.

Pertama, acara dibuka dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh pemuka agama dan diikuti keluarga dan masyarakat yang hadir. Selanjutnya, pemuka agama dan diikuti oleh pasangan suami istri dari kakak tertua memimpin adik-adiknya secara berurutan, dengan memegangi ujung belakang baju saudaranya, untuk kemudian mengitari gentong berisi air yang ditutup tampah sebanyak tiga kali. Di belakang mereka, akan mengikuti seorang, yang telah ditunjuk, dengan membawa pecut laiknya seperti kusir yang mengendalikan kereta kuda. Si pemegang pecut akan membaca sholawat dan memukul pecut sebagai simbol pemacu semangat para pengantin dalam berumah  tangga, semangat dalam bekerja maupun dalam menjalani hidup bersama.

Pada putaran ketiga, pengantin menendang gentong sampai pecah sehingga airnya tumpah untuk kemudian pemuka agama akan menyebar beras kuning dan uang koin kepada masyarakat yang hadir. Bagian inilah yang paling ditunggu-tunggu. Masyarakat akan saling berebut, saling senggol, saling sikut dan terjatuh untuk mendapatkan uang koin itu. Namun jangan salah sangka, mereka justru akan tertawa dan saling bercanda, itung-itung sekalian mencari untung dari uang receh yang didapat.  

Sebagai penutupan, pemuka agama akan membaca doa yang kemudian diikuti oleh pengantin, keluarga, dan masyarakat yang hadir.

Jadi, kita sebagai warga negara Indonesia patut bangga memiliki adat dan budaya yang beragam. Karena itu merupakan kekayaan dan kelebihan yang patut kita junjung tinggi dan lestarikan. Kalau bukan kita, siapa lagi?

This Post Has One Comment

  1. Mahasantuy

    Wah baru tau….
    Lanjutkan….
    Request artikel tentang keunikan MSAA dong…
    Kami para Mahasantri biar lebih tau tentang MSAA…. Mantap HI

Leave a Reply