Yuk, Muhasabah. Kalau Tidak Sekarang Kapan Lagi ?

Yuk, Muhasabah. Kalau Tidak Sekarang Kapan Lagi ?

  • Post author:
  • Post category:Islami
  • Post comments:1 Comment
  • Reading time:4 mins read

Imam Haris Al-Muhasibi dikenal sebagai sang ahli muhasabah. Menurut Imam Haris Al-Muhasibi dalam kitab karyanya yang berjudul “Ria’yah Li Huquq Allah”. Yang merupakan sebuah karya tasawuf kecil luar biasa, yang berhasil menginspirasi Imam Al-Ghazali dalam karyanya yang dikenal dengan Ihya’ Ulumuddin,  menjelaskan bahwa muhasabah diawali dari lidah. Bahwa apa yang kita ucapkan perlu di-muhasabah terlebih dahulu. Hati-hatilah dengan lidah kita dan hindari omong kosong (perkataan yang tidak ada faedahnya). Sebab, omong kosong itu hanya akan menghabiskan waktu yang bisa digunakan untuk melakukan perbuatan yang lebih manfaat dan berfaedah. Namun, jika melihat saat ini satu jari pun bisa menjelma lidah lewat postingan di media sosial. Bukan lagi kita berfikir kita dianggap ada, tetapi kita membuat insta story maka kita akan ada.

Cobalah untuk di muhasabah, apa saja yang kita lakukan di media sosial.

Berapa persen kalimat positif  yang kita ucapkan ?

Berapa persen keisengan yang telah kita keluarkan ?

Berapa persen kalimat negatif yang kita lontarkan ?

Pada dasarnya substansi dari muhasabah adalah intropeksi diri. Menghitung berapa presentase baik dan buruknya suatu perbuatan yang telah dilakukan mulai dari masa lalu sampai dengan saat ini. Kalau bisa menghitungnya, sungguh luar biasa muhasabahnya. Seperti layaknya organisasi yang membutuhkan adanya evaluasi, muhasabah juga seperti demikian, sebagai ajang evaluasi diri untuk menuju pribaadi yang lebih baik dan berguna. Bahkan muhasabah juga dikaitkan dalam bidang psikologi, karena digunakan dalam memecahkan suatu masalah psikis seseorang.

Pokok kalau mau bilang yang macam-macam, ingatlah hadits nabi, “Berkata baik atau diam”. Itu sudah merupakan hal yang paling benar untuk dilakukan., by the way. Imam Asy-Syafi’I berkata dalam syairnya :

“Jagalah lisanmu wahai manusia, jangan sampai ia menyengatmu karena sesungguhnya ia adalah ular berbisa. Banyak orang terbunuh karena lisannya, padahal banyak pemberani takut bertemu dengannya.”

Kejarlah kebahagiaan dengan bermuhasabah. Karena kunci kebahagiaan adalah kenali dirimu sendiri, kata Imam Ghazali. Akan kesulitan bagi seseorang dalam menemukan kebahagiaannya, jika tidak mengenal dirinya sendiri. Ibaratnya seperti selera makanan. Layaknya seperti masyarakat lokal yang biasa memakan makanan pokok berupa nasi dan jagung, ingin mencoba supaya dianggap keren memakan makanan ala prancis, maka tidak akan terasa nyaman di lidahnya. Itulah  sebab perlunya mengetahui diri sendiri.

Silat lidah, silet hati. Kalau bukan kebaikan atau kalau sampai menyakiti hati orang, diamlah ! sebab, terkadang kita pun tak sadar mengeluarkan kata-kata yang menjelma silet, yang dapat melukai hati orang lain. Iya, kalau orang yang tak sengaja kau lukai itu berterus terang bahwa ucapan kita telah melukai hatinya, kita masih bisa mengintropeksi diri. Namun kalau orang yang tak sengaja itu hanya memilih dia saja ? Bukannya dosa itu akan terus berlanjut sampai ia benar-benar memaafkanmu ? iya kalau dimaafkan, kalau tidak ?

Lidah memang seperti itu, ya. Yang gampang sekali melukai perasaan orang lain hingga sampai menimbulkan dosa.Tanggungan dosa kepada manusia memang sangatlah berat. Terutama dosanya lidah yang memiliki banyak kaitannya dengan manusia. Yuk, sama-sama menjaga lisan kita. Mulailah mencoba untuk meminimalisir kebiasaan berbicara buruk terhadap diri kita, lebih-lebih kepada orang lain. Berusaha untuk selalu menekankan kepada  ucapan-ucapan positif, seperti berupa kata-kata motivasi maupun nasihat. Seperti yang diungkapkan Ibnu Malik dalam bait Alfiyyah :

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Bait tersebut mengarahkan kita untuk selalu berbicaralah yang baik dan istiqomahkanlah itu. Sering kali bahkan sudah tidak asing bagi telinga ketika mendengar ucapan orang yang mengumpat dengan kata-kata kasar, seperti sampai menyebut nama-nama hewan yang tidak bersalah. Sudah pergantian tahun 2021, kasihan dong para hewan yang selalu dijadikan bahan untuk mencaci maki. Kalau si lidah kita sudah dibiasakan untuk berkata ucapan yang baik, lambat laun  lidah itu akan lupa untuk berkata ucapan yang tidak baik. Bahkan, ucapan yang buruk dan kata-kata kasar itu akan terasa enggan untukdiucapkan dan akan terasa asing untuk didengarkan

Hisablah diri kita sendiri, sebelum dihisab oleh Allah di hari akhir nanti.

Mitha Farihatul W.

This Post Has One Comment

  1. Fauzi

    حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

Leave a Reply